Ketergantungan Fiskal Struktural dan Tekanan Belanja Pegawai: Bukti Longitudinal dari Kabupaten Toraja Utara
DOI:
https://doi.org/10.55338/jeama.v5i1.860Keywords:
Kemandirian Fiskal, Pendapatan Asli Daerah, Mann-Kendall, Crowding Out, Desentralisasi FiskalAbstract
Kabupaten Toraja Utara menghadapi ketergantungan fiskal yang persisten dengan rasio kemandirian fiskal yang tidak pernah melampaui 5,36% selama 2020–2024, sementara belanja pegawai terus meningkat dan menekan ruang fiskal untuk pembangunan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola perubahan kinerja keuangan daerah melalui tiga dimensi: kemandirian fiskal, efektivitas pemungutan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan dinamika struktur belanja. Data bersumber dari Laporan Realisasi Anggaran resmi periode 2020–2024 yang dianalisis menggunakan pendekatan tren longitudinal, uji Mann-Kendall, dan estimator Sen's slope untuk mengukur arah serta laju perubahan indikator fiskal. Hasil penelitian mengungkap tiga temuan kritis: rasio kemandirian fiskal stagnan pada kisaran 4,23–5,36%; penetapan target PAD 2023 yang tidak berbasis potensi riil menyebabkan realisasi hanya 32,51% dari target; serta rasio belanja pegawai meningkat dari 47,1% menjadi 62,2% sementara belanja modal turun dari 33,6% menjadi 21,4%. Penelitian ini merekomendasikan standardisasi metodologi penetapan target PAD, pengendalian belanja pegawai melalui batas internal, serta pengembangan sumber PAD berbasis potensi pariwisata dan Badan Usaha Milik Daerah.
References
[1] R. D. Hardiana, H. Tanuatmodjo, and F. Kurniati, “Desentralisasi fiskal dan tingkat kemandirian daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2015–2019,” J. Pendidik. Akunt. dan Keuang., vol. 8, no. 2, pp. 197–210, 2020, doi: 10.17509/jpak.v8i2.25757.
[2] R. Saragih and Nurlinda, “Analisis kemandirian keuangan daerah, ketergantungan fiskal dan efektivitas fiskal pada Kabupaten Tapanuli Utara dan daerah otonomi barunya periode tahun 2018--2022,” Liabilities J. Pendidik. Akunt., vol. 6, no. 2, pp. 1–11, 2023, [Online]. Available: https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/LIAB/article/view/14810
[3] A. A. Nugroho and C. Candrawati, “Desentralisasi fiskal dan kemandirian daerah pemekaran: Studi kasus pada Provinsi Sulawesi Barat,” Dialogue J. Ilmu Adm. Publik, vol. 7, no. 1, pp. 46–57, Jun. 2025, doi: 10.14710/dialogue.v7i1.26656.
[4] K. Digdowiseiso and D. Kaliwattu, “ANALISIS KEMANDIRIAN FISKAL, KETERGANTUNGAN FISKAL DAN EFEKTIVITAS FISKAL PROVINSI D.I YOGYAKARTA TAHUN 2018-2022,” JIGE, vol. 4, no. 1, pp. 219–228, Mar. 2023, doi: 10.55681/jige.v4i1.573.
[5] A. A. P. Putri, R. Masdar, A. C. Furqan, M. Lucyani, and B. Betty, “The Effect of Regional Original Revenue (Pad) and Transfer Funds on the Financial Efficiency of Local Governments in Indonesia,” AMAR (Amkop Manag. Account. Rev., vol. 5, no. 2, pp. 1579–1592, Dec. 2025, doi: 10.37531/amar.v5i2.3448.
[6] R. Aulia and I. Sari, “Pengaruh PAD dan DAU terhadap Kinerja Keuangan Pemda dengan Belanja Pegawai Sebagai Variabel Intervening: Studi Kasus pada Pemerintah Kabupaten dan Kota di Provinsi Bangka Belitung Tahun 2017-2021,” JUARA J. Ris. Akunt., vol. 13, no. 2, pp. 152–167, 2023.
[7] M. Burhan, K. Kartini, and D. Said, “Pengaruh kemandirian keuangan dan belanja modal terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah dengan pertumbuhan ekonomi sebagai variabel moderasi,” Al-Buhuts, vol. 18, no. 2, pp. 296–310, 2022, doi: 10.30603/ab.v18i2.2946.
[8] F. Effendi, V. Ratnawati, and Y. M. Basri, “Penentuan target, strategi dan faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi pajak daerah,” Jati J. Akunt. Terap. Indones., vol. 4, no. 2, pp. 95–116, 2021, doi: 10.18196/jati.v4i2.10394.
[9] Musthafa and S. Astuty, “Belanja pegawai dan belanja barang dan jasa terhadap belanja modal,” J. Ilm. Ekon. Bisnis, vol. 8, no. 3, pp. 475–487, 2022, doi: 10.35972/jieb.v8i3.881.
[10] H. Hamdani and Z. Zaenudin, “Implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah terhadap pengendalian belanja pegawai kabupaten dan kota se Sumatera Barat,” J. Eksplor. Akunt., vol. 5, no. 2, pp. 836–852, 2023, doi: 10.24036/jea.v5i2.836.
[11] A. P. Mulyaningsih and S. N. Sunaningsih, “Analisis rasio keuangan untuk mengukur kinerja keuangan pemerintah daerah,” J. Inf. Syst. Applied, Manag. Account. Res., vol. 6, no. 3, pp. 612–622, 2022.
[12] P. G. B. Perangin-Angin, E. A. Natalian, and R. W. Bharata, “Analisis rasio keuangan untuk mengukur kinerja keuangan pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah tahun anggaran 2019–2022,” Manaj. Kreat. J., vol. 1, no. 3, pp. 173–183, 2023, doi: 10.55606/makreju.v1i3.1657.
[13] H. B. Mann, “Nonparametric tests against trend,” Econometrica, vol. 13, no. 3, pp. 245–259, 1945, doi: 10.2307/1907187.
[14] P. K. Sen, “Estimates of the Regression Coefficient Based on Kendall’s Tau,” J. Am. Stat. Assoc., vol. 63, no. 324, pp. 1379–1389, 1968, doi: 10.1080/01621459.1968.10480934.
[15] N. A. Mariani, I. C. Kusuma, and S. Hambani, “Analisis kontribusi dan efektivitas sistem pemungutan pajak hotel dan restoran terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor,” J. Multidisiplin Indones., vol. 2, no. 7, pp. 1648–1660, 2023, doi: 10.58344/jmi.v2i7.326.
[16] Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, “Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 Tahun 1996 tentang Pedoman Penilaian dan Kinerja Keuangan.” Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, 1996.
[17] Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK), “Pedoman pengelolaan keuangan daerah.” 2020.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Frischa Faradilla Arwinda Mongan, Andi Mulia Saleh, Nirwana Nirwana, Aini Indrijawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




